Kamis, September 16, 2010

sebait rindu untuk Ayah

Sunyi...
hening yang membingungkan

Diam...
meski ditatap lekat
dengan segenap upaya
tetap tak bergerak, tak bernafas

Pilu....
helai demi helai kafan membalut jasad
diikat, diusung, dishalatkan

Hampa...
tubuh pun diturunkan
ke rumah para cacing, semut, kecoa
pengganti istana emas dan perak
ditimbun bagai bangkai

Bolehkah kutaruh makanan penghilang lapar??
tidak...
Bolehkan kutinggal minuman pelepas dahaga?
tidak...
Bolehkah kutitip selimut tebal, jaket hangat, syal, sarung tangan?
tidak...
Bolehkan kutaruh uang dan perhiasan?
tidak...

Jahat...kalian jahat...
menimbun jasad orang terkasih ku
tapi tak membiarkan ku membantunya
Betapa jahatnya..

Kau bodoh!!
semua itu tak akan membantu
fatamorgana itu tak akan menolongnya
meski kau menangis meronta
meski kau teriaki semesta
tak kan membantu...menolong

Hanya...
doa anak yang shaleh
yang ikhlas...dan berbakti
penyambung tali silaturrahmi
pelepas jeratan hutang
jadilah anak shaleh itu

(4 my lovely Dad, I miss U)

puisi ini kutulis sekitar bulan Juli 2007, 2 tahun setelah kepergian Ayah. Sambil menunggu kedatangan dosen di ruang kuliah, entah kenapa tiba-tiba aku menjadi sangat rindu dengan sosok Beliau, dan terukirlah puisi ini apa adanya...

3 komentar: